Cerpen
Antara Biologi, Cinta, dan Kepastian
Di suatu hari, seorang anak berumur
14 tahun bernama Toni. Dia hendak mendaftar di SMP terdekat rumahnya yang ada
di Kota Kerta Baru. Dia bertemu dengan seorang gadis yang bernama Fiana. Mereka
pun bersama-sama mengisi formulir pendaftaran di halaman SMP yang mereka tuju.
Namun, tiba-tiba pulpen Toni yang semata wayang itu macet.
“Maaf menggangu, apakah aku boleh
meminjam pulpenmu?” Tanya Toni dengan ragu.
“Eh kamu ini, jadi lelaki yang
bermodal lah!” pungkas Fiana dengan nada kesal karena terganggu.
“Maaf kalau begitu.” Jawab Toni
dengan nada lirih.
Selang beberapa minggu kemudian,
mereka dinyatakan terpilih dan masuk di kelas yang sama.
Setiap hari, Toni dan Fiana selalu
datang awal ke ruangan kelas. Mengingat, lalu lintas menuju ke SMP tersebut
rawan macet. Toni terpana akan kecantikkan Fiana. Tak hanya itu, Fiana juga
dikenal seorang murid yang pintar di kelasnya. Tentu saja, Toni kagum dengan
sosok Fiana ini. Walau demikian, diketahui tak lama kemudian bahwa Fiana
ternyata anak dari salah satu konglomerat yang ada di kota. Tentu, itu membuat
Toni sadar diri. Mengingat, ayah Toni hanya seorang supir dan Ibu Toni hanya
seorang petani.
Pada waktu pengumuman kenaikan kelas,
ternyata di kelas delapan (VIII) nanti Fiana dan Toni tidak satu kelas. Ini
karena nilai keseluruhan dan nilai bahasa Inggris pada rapor Toni lebih rendah
dari pada jumlah kuota kelas yang disediakan. Toni sempat berputus asa atas
pencapaian yang ia peroleh dan harus berpisah dari Fiana.
Suatu hari, seorang guru membuka
bimbingan belajar biologi untuk mengikuti suatu kompetisi. Toni yang pesimis
dengan nilai rapor enggan mendaftar. Tiba-tiba, Reno, teman sebangku Toni pun
berbisik.
“Ton, kamu daftar saja bimbel itu,
lumayan nambah ilmu.” anjur Reno.
“Tidak. kenyataannya nilai biologi
ku jelek-jelek. Bisa bagus di raporpun untungnya ketutup oleh nilai fisika”
Jawab Toni dengan pesimis.
(Catatan: Nilai IPA merupakan Nilai
gabungan dari mata pelajaran biologi dan fisika)
“Ton, masalah kamu menang atau
tidak di kompetisi nanti, itu belakangan. Kamu suka sama Fiana, bukan?” bujuk
Reno.
“Ayo, siapa lagi yang mau daftar
bimbingannya?” Tanya ibu guru.
Toni yang penuh keraguan atas
dirinya masih enggan mengacungkan jarinya. Namun atas bantuan Reno, akhirnya
namanya tercatat oleh guru IPA biologi.
Selama tiga bulan, anak-anak yang
diseleksi dari kelas VII dan VIII. Ada yang rajin datang, ada juga yang sering
bolos. Toni yang mengikuti bimbel demi Fiana ini, sering datang. Bahkan saat
diserang penyakit bisul sebesar bola ping-pong di selangkangannya. Pada
akhirnya, Toni terpilih mengikuti kompetisi tingkat kota bersama Fiana dan
Wahyu, teman sekelas Fiana.
Saat berlomba, ternyata Fiana dan
Toni duduk di kelas yang sama. Sementara itu, Wahyu duduk di ruangan lain.
Tentu saja, Toni bahagia bukan kepalang karena ada Fiana dalam jangkauan
matanya.
“Semoga, aku bisa lebih unggul. Aku
ingin Fiana terus mengandalkanku dalam hal yang ia sukai.” gumam Toni dalam hatinya
Setelah pengumuman, Toni mendapat
peringkat 1, Fiana peringkat 2, dan Wahyu peringkat 3. Hal ini cukup
mengejutkan bagi sebagian orang, khususnya guru-guru dan kepala sekolah.
Mengingat, Toni dikenal sebagai anak yang tak sepintar anak lainnya dan kerap
menjadi bahan rundungan bagi beberapa orang guru dan murid lain. Bahkan, Toni
pernah ditolak dalam keanggotaan OSIS hanya karena dia tampak lemah, meskipun
tes pengetahuan umumnya tergolong tinggi.
Dua tahun kemudian, Fiana dan Toni
duduk di bangku SMA yang sama. Bahkan di kelas yang sama di jurusan IPA. Suatu
hari, Fiana mengadakan pesta ulang tahun yang ke-17 di hotel yang baru dibuka
di Kerta Baru. Tentu saja, Toni diundang ke pesta tersebut sebagai teman satu
angkatan. Awalnya, Toni kebingungan. Toni tidak mempunyai baju bagus. Namun,
akhirnya dia memotong lengan panjang dan menjahit kerah yang sedikit koyak dari
baju batik bapaknya.
Sesampainya di tempat acara...
“Aduh, tempat ini bagus sekali. Rasanya
aku ingin pulang. Sebaiknya aku di barisan belakang saja.” gumam Toni.
Berselang beberapa menit, Fiana pun
keluar. Fiana tampak menggunakan gaun panjang berwarna merah muda dengan rambut
hitam dan bergelombang yang terurai.
Acara tiup lilin dan pemotongan kue
pun dimulai. Semua yang hadir menyanyikan lagu dengan meriah, tak terkecuali
Toni. Fiana yang melakukan pemotongan kue kemudian memberikan potongan kue pada
ibu, ayah, nenek, adik, dan dua orang teman perempuannya.
Tak lama kemudian...
“Baiklah, untuk potongan kue
selanjutnya, siapa yang akan kita panggil?” ujar sang pembawa acara.
“Toni”, sebut Fiana.
Semua orang yang ada disana menoleh
kearah Toni.
“Mengapa Fiana harus memanggilku?
Bukankah teman lelaki dia lumayan banyak? Lagi pula, tampilanku seperti ini.
Mana rambutku berantakkan lagi.” gumam Toni dengan kalutnya.
Toni yang tak kunjung maju akhirnya
membuat sang ayah dari Fiana bergerak menuju kearahnya.
“Sudahlah, kamu maju sana. Tuh
ayahnya turun tangan” desak guru dan teman-teman yang ada di dekat Toni.
Dengan berat hati, Toni yang
bergemetaran beranjak menuju ke pentas dan disambut ayah Fiana.
Sesampainya di pentas, Fiana
menghampiri Toni dan menyuapkan potongan kue langsung ke dalam mulut Toni.
“Kalau boleh tahu, Toni ini
siapanya Fiana?” Tanya pembawa acara.
“Sahabatnya.” jawab ibu Fiana.
Sepulang dari pesta, Toni sangat
gembira karena bisa mendapat momen penting bersama gadis yang ia sukai.
Setahun kemudian di depan lab IPA,
ada acara bagi-bagi bunga yang selenggarakan panitia ROHIS. Toni mencoba
menggoda Fiana dengan membawa bunga kertas.
“Fi, mau bunga mawar ini kah?”
jahil Toni.
“Aku tidak mau bunga ini, aku mau
yang asli.” pungkas Fiana.
“Kalau aku bawa bunga yang asli,
harus terima ya!” jawab Toni.
“Iya, akan ku terima.” jawab Fiana
dengan lembut.
“Padahal aku kan cuma iseng,
mengapa jadi begini?” gumam Toni yang mulai bimbang.
Beberapa hari kemudian di tempat
yang sama.
“Fi, kenapa kamu mencariku?” tanya
Toni.
“Ton, aku ada bawa handphone. Aku
ingin kamu memilikinya. Aku berharap komunikasi kita tidak terputus.” ujar
Fiana.
“Ya, akan ku terima. Nanti, kamu
akan lanjut kuliah jurusan kedokteran. Aku akan lanjut menjadi guru biologi.”
“Iya, kamu jadi guru, aku jadi
dokter.”
Beberapa waktu kemudian, mereka
ujian dan akhirnya lulus.
Saat Toni semester III, Toni
mendapat kabar bahwa Fiana sudah memiliki pacar. Namun Toni masih tetap ingin
mengungkapkan perasaan yang sudah ia simpan sejak SMP.
Akhirnya Toni memberanikan diri
untuk menghubungi Fiana yang berada di Provinsi yang berbeda.
“ Fi, maaf mengganggu. Aku ingin
membicarakan sesuatu.”
“Iya, Ton.” jawab Fiana.
“Aku, menyukaimu....”
Setelah Toni menyatakan hal
tersebut, Fiana terdiam dan tak menjawab hingga beberapa menit kemudian.
“Ahahaha, aku cuma bercanda. Aku
ingin tau bagaimana perkuliahanmu disana?” Toni mengalihkan pembicaraan. Fiana
pun membalas dengan ikut tertawa.
Setelah menelpon, Toni sebenarnya
masih penasaran tentang bagaimana perasaan Fiana terhadapnya. Di satu sisi,
Toni sudah mengetahui bahwa Fiana sudah ada yang memiliki. Di sisi lain, Fiana
masih tidak memberi kepastian tentang perasaannya.
Dalam hal tersebut, Toni sebenarnya
tidak memaksakan agar Fiana menyukainya. Jikalau Fiana menolaknya karena
keterbatasan Toni, maka Toni akan menerima atas kesadarannya. Kalaupun Fiana
mau, dia juga bisa jujur bahwa dia sudah memiliki orang lain sebagai alasan
penolakkannya.
Hingga beberapa tahun kemudian,
Toni tidak bisa menerima perempuan lain selain Fiana. Meskipun perempuan lain
itu datang dan menyatakan cinta dengan sendirinya. Karena didalam lubuk hati
Toni yang paling dalam ia berkata,
“Aku
akan selalu menunggu kepastian darimu sampai kapanpun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar