Selasa, 30 Juli 2019

Cerpen
Antara Biologi, Cinta, dan Kepastian

Di suatu hari, seorang anak berumur 14 tahun bernama Toni. Dia hendak mendaftar di SMP terdekat rumahnya yang ada di Kota Kerta Baru. Dia bertemu dengan seorang gadis yang bernama Fiana. Mereka pun bersama-sama mengisi formulir pendaftaran di halaman SMP yang mereka tuju. Namun, tiba-tiba pulpen Toni yang semata wayang itu macet.

“Maaf menggangu, apakah aku boleh meminjam pulpenmu?” Tanya Toni dengan ragu.
“Eh kamu ini, jadi lelaki yang bermodal lah!” pungkas Fiana dengan nada kesal karena terganggu.
“Maaf kalau begitu.” Jawab Toni dengan nada lirih.
Selang beberapa minggu kemudian, mereka dinyatakan terpilih dan masuk di kelas yang sama.

Setiap hari, Toni dan Fiana selalu datang awal ke ruangan kelas. Mengingat, lalu lintas menuju ke SMP tersebut rawan macet. Toni terpana akan kecantikkan Fiana. Tak hanya itu, Fiana juga dikenal seorang murid yang pintar di kelasnya. Tentu saja, Toni kagum dengan sosok Fiana ini. Walau demikian, diketahui tak lama kemudian bahwa Fiana ternyata anak dari salah satu konglomerat yang ada di kota. Tentu, itu membuat Toni sadar diri. Mengingat, ayah Toni hanya seorang supir dan Ibu Toni hanya seorang petani.

Pada waktu pengumuman kenaikan kelas, ternyata di kelas delapan (VIII) nanti Fiana dan Toni tidak satu kelas. Ini karena nilai keseluruhan dan nilai bahasa Inggris pada rapor Toni lebih rendah dari pada jumlah kuota kelas yang disediakan. Toni sempat berputus asa atas pencapaian yang ia peroleh dan harus berpisah dari Fiana.

Suatu hari, seorang guru membuka bimbingan belajar biologi untuk mengikuti suatu kompetisi. Toni yang pesimis dengan nilai rapor enggan mendaftar. Tiba-tiba, Reno, teman sebangku Toni pun berbisik.

“Ton, kamu daftar saja bimbel itu, lumayan nambah ilmu.” anjur Reno.
“Tidak. kenyataannya nilai biologi ku jelek-jelek. Bisa bagus di raporpun untungnya ketutup oleh nilai fisika” Jawab Toni dengan pesimis.
(Catatan: Nilai IPA merupakan Nilai gabungan dari mata pelajaran biologi dan fisika)

“Ton, masalah kamu menang atau tidak di kompetisi nanti, itu belakangan. Kamu suka sama Fiana, bukan?” bujuk Reno.
“Ayo, siapa lagi yang mau daftar bimbingannya?” Tanya ibu guru.

Toni yang penuh keraguan atas dirinya masih enggan mengacungkan jarinya. Namun atas bantuan Reno, akhirnya namanya tercatat oleh guru IPA biologi.
Selama tiga bulan, anak-anak yang diseleksi dari kelas VII dan VIII. Ada yang rajin datang, ada juga yang sering bolos. Toni yang mengikuti bimbel demi Fiana ini, sering datang. Bahkan saat diserang penyakit bisul sebesar bola ping-pong di selangkangannya. Pada akhirnya, Toni terpilih mengikuti kompetisi tingkat kota bersama Fiana dan Wahyu, teman sekelas Fiana.
Saat berlomba, ternyata Fiana dan Toni duduk di kelas yang sama. Sementara itu, Wahyu duduk di ruangan lain. Tentu saja, Toni bahagia bukan kepalang karena ada Fiana dalam jangkauan matanya.

“Semoga, aku bisa lebih unggul. Aku ingin Fiana terus mengandalkanku dalam hal yang ia sukai.” gumam Toni dalam hatinya

Setelah pengumuman, Toni mendapat peringkat 1, Fiana peringkat 2, dan Wahyu peringkat 3. Hal ini cukup mengejutkan bagi sebagian orang, khususnya guru-guru dan kepala sekolah. Mengingat, Toni dikenal sebagai anak yang tak sepintar anak lainnya dan kerap menjadi bahan rundungan bagi beberapa orang guru dan murid lain. Bahkan, Toni pernah ditolak dalam keanggotaan OSIS hanya karena dia tampak lemah, meskipun tes pengetahuan umumnya tergolong tinggi.
Dua tahun kemudian, Fiana dan Toni duduk di bangku SMA yang sama. Bahkan di kelas yang sama di jurusan IPA. Suatu hari, Fiana mengadakan pesta ulang tahun yang ke-17 di hotel yang baru dibuka di Kerta Baru. Tentu saja, Toni diundang ke pesta tersebut sebagai teman satu angkatan. Awalnya, Toni kebingungan. Toni tidak mempunyai baju bagus. Namun, akhirnya dia memotong lengan panjang dan menjahit kerah yang sedikit koyak dari baju batik bapaknya. 
Sesampainya di tempat acara...

“Aduh, tempat ini bagus sekali. Rasanya aku ingin pulang. Sebaiknya aku di barisan belakang saja.” gumam Toni.

Berselang beberapa menit, Fiana pun keluar. Fiana tampak menggunakan gaun panjang berwarna merah muda dengan rambut hitam dan bergelombang yang terurai.

Acara tiup lilin dan pemotongan kue pun dimulai. Semua yang hadir menyanyikan lagu dengan meriah, tak terkecuali Toni. Fiana yang melakukan pemotongan kue kemudian memberikan potongan kue pada ibu, ayah, nenek, adik, dan dua orang teman perempuannya.
Tak lama kemudian...

“Baiklah, untuk potongan kue selanjutnya, siapa yang akan kita panggil?” ujar sang pembawa acara.

“Toni”, sebut Fiana.

Semua orang yang ada disana menoleh kearah Toni.

“Mengapa Fiana harus memanggilku? Bukankah teman lelaki dia lumayan banyak? Lagi pula, tampilanku seperti ini. Mana rambutku berantakkan lagi.” gumam Toni dengan kalutnya.

Toni yang tak kunjung maju akhirnya membuat sang ayah dari Fiana bergerak menuju kearahnya.

“Sudahlah, kamu maju sana. Tuh ayahnya turun tangan” desak guru dan teman-teman yang ada di dekat Toni.

Dengan berat hati, Toni yang bergemetaran beranjak menuju ke pentas dan disambut ayah Fiana.
Sesampainya di pentas, Fiana menghampiri Toni dan menyuapkan potongan kue langsung ke dalam mulut Toni.

“Kalau boleh tahu, Toni ini siapanya Fiana?” Tanya pembawa acara.
“Sahabatnya.” jawab ibu Fiana.

Sepulang dari pesta, Toni sangat gembira karena bisa mendapat momen penting bersama gadis yang ia sukai.
Setahun kemudian di depan lab IPA, ada acara bagi-bagi bunga yang selenggarakan panitia ROHIS. Toni mencoba menggoda Fiana dengan membawa bunga kertas.

“Fi, mau bunga mawar ini kah?” jahil Toni.
“Aku tidak mau bunga ini, aku mau yang asli.” pungkas Fiana.
“Kalau aku bawa bunga yang asli, harus terima ya!” jawab Toni.
“Iya, akan ku terima.” jawab Fiana dengan lembut.
“Padahal aku kan cuma iseng, mengapa jadi begini?” gumam Toni yang mulai bimbang.

Beberapa hari kemudian di tempat yang sama.

“Fi, kenapa kamu mencariku?” tanya Toni.
“Ton, aku ada bawa handphone. Aku ingin kamu memilikinya. Aku berharap komunikasi kita tidak terputus.” ujar Fiana.
“Ya, akan ku terima. Nanti, kamu akan lanjut kuliah jurusan kedokteran. Aku akan lanjut menjadi guru biologi.”
“Iya, kamu jadi guru, aku jadi dokter.”

Beberapa waktu kemudian, mereka ujian dan akhirnya lulus.
Saat Toni semester III, Toni mendapat kabar bahwa Fiana sudah memiliki pacar. Namun Toni masih tetap ingin mengungkapkan perasaan yang sudah ia simpan sejak SMP.
Akhirnya Toni memberanikan diri untuk menghubungi Fiana yang berada di Provinsi yang berbeda.

“ Fi, maaf mengganggu. Aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Iya, Ton.” jawab Fiana.
“Aku, menyukaimu....”

Setelah Toni menyatakan hal tersebut, Fiana terdiam dan tak menjawab hingga beberapa menit kemudian.
“Ahahaha, aku cuma bercanda. Aku ingin tau bagaimana perkuliahanmu disana?” Toni mengalihkan pembicaraan. Fiana pun membalas dengan ikut tertawa.

Setelah menelpon, Toni sebenarnya masih penasaran tentang bagaimana perasaan Fiana terhadapnya. Di satu sisi, Toni sudah mengetahui bahwa Fiana sudah ada yang memiliki. Di sisi lain, Fiana masih tidak memberi kepastian tentang perasaannya.

Dalam hal tersebut, Toni sebenarnya tidak memaksakan agar Fiana menyukainya. Jikalau Fiana menolaknya karena keterbatasan Toni, maka Toni akan menerima atas kesadarannya. Kalaupun Fiana mau, dia juga bisa jujur bahwa dia sudah memiliki orang lain sebagai alasan penolakkannya.

Hingga beberapa tahun kemudian, Toni tidak bisa menerima perempuan lain selain Fiana. Meskipun perempuan lain itu datang dan menyatakan cinta dengan sendirinya. Karena didalam lubuk hati Toni yang paling dalam ia berkata,


“Aku akan selalu menunggu kepastian darimu sampai kapanpun.”